Tanggal: 22 Sep 2026
Kategori: Berita
Post dari: Admin
𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘴𝘸𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘳𝘨𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘢, 𝘐𝘳𝘢𝘯, 𝘔𝘢𝘭𝘪, 𝘚𝘶𝘥𝘢𝘯, 𝘗𝘢𝘬𝘪𝘴𝘵𝘢𝘯, 𝘚𝘪𝘦𝘳𝘳𝘢 𝘓𝘦𝘰𝘯𝘦, 𝘗𝘳𝘢𝘯𝘤𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘯𝘦𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘪𝘣𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘭𝘰𝘮𝘦𝘵𝘦𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘥𝘪 𝘜𝘯𝘪𝘷𝘦𝘳𝘴𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘛𝘦𝘬𝘯𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪 𝘚𝘶𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢?
Oleh: Redaksi DESA SMART
Ada sesuatu yang menarik sedang berlangsung di sebuah kampus yang berdiri di kaki Olat Maras, Sumbawa. Ketika sebagian besar mahasiswa dari daerah masih memandang kota-kota besar sebagai pusat pendidikan dan tujuan untuk melanjutkan studi, Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) justru memperlihatkan arah yang berbeda. Bukan hanya mahasiswa dari berbagai provinsi di Indonesia yang datang ke Sumbawa, tetapi juga anak-anak muda dari berbagai negara yang pernah memilih kampus ini sebagai tempat untuk menempuh pendidikan tinggi.
Fenomena tersebut tentu menimbulkan pertanyaan yang menarik. Apa yang membuat seorang anak muda dari Argentina, Iran, Mali, Sudan, Pakistan, Sierra Leone atau Prancis bersedia meninggalkan negaranya dan datang ke sebuah pulau yang secara geografis berada ribuan kilometer dari tempat mereka berasal? Apakah semata-mata karena beasiswa, atau ada sesuatu yang lebih besar yang mereka temukan di Sumbawa?
𝗗𝗔𝗥𝗜 𝗦𝗨𝗠𝗔𝗧𝗘𝗥𝗔 𝗨𝗧𝗔𝗥𝗔 𝗛𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔 𝗗𝗨𝗡𝗜𝗔
Kehadiran mahasiswa dari luar daerah sebenarnya bukan fenomena baru bagi UTS. Sejak masa awal perkembangannya, kampus ini telah berusaha menjaring mahasiswa dari berbagai wilayah Indonesia melalui berbagai program beasiswa. Sumatera Utara termasuk salah satu daerah yang tercatat memiliki mahasiswa penerima Beasiswa Nusantara UTS. Pada 2016, misalnya, penerima Beasiswa Nusantara UTS tercatat berasal dari sejumlah daerah di Sumatera Utara, termasuk Langkat dan Kisaran.
Pola tersebut memperlihatkan bahwa sejak awal UTS tidak hanya membayangkan dirinya sebagai kampus untuk masyarakat Sumbawa. Ada gagasan untuk membangun sebuah ruang pendidikan yang mempertemukan anak-anak muda dari berbagai latar belakang daerah. Gagasan itu kemudian berkembang lebih jauh ketika UTS mulai membuka kesempatan kepada mahasiswa dari luar Indonesia.
𝗕𝗘𝗔𝗦𝗜𝗦𝗪𝗔 𝗠𝗘𝗡𝗝𝗔𝗗𝗜 𝗝𝗔𝗟𝗔𝗡 𝗠𝗘𝗡𝗨𝗝𝗨 𝗦𝗨𝗠𝗕𝗔𝗪𝗔
Salah satu faktor penting yang membuat mahasiswa asing tertarik datang adalah program beasiswa. Melalui Global Ambassador Scholarship atau U-GAS, UTS berusaha membuka akses pendidikan bagi calon mahasiswa internasional. Pada 2020, program tersebut mendapat perhatian besar karena UTS mencatat ribuan calon mahasiswa dari sekitar 80 negara.
Tentu saja jumlah pendaftar tidak sama dengan jumlah mahasiswa yang akhirnya datang ke Sumbawa. Setelah melalui proses seleksi, hanya sebagian yang kemudian memperoleh beasiswa dan menjadi mahasiswa UTS. Namun angka tersebut menunjukkan sesuatu yang penting: nama Sumbawa ternyata dapat menjangkau calon mahasiswa yang berada sangat jauh di luar Indonesia.
Bagi seorang calon mahasiswa dari Afrika, Eropa atau Amerika Latin, beasiswa bukan sekadar persoalan pengurangan biaya pendidikan. Beasiswa dapat menjadi pintu yang memungkinkan mereka mencoba pengalaman yang sebelumnya mungkin tidak pernah mereka bayangkan. Dari sinilah perjalanan mereka menuju Sumbawa dimulai.
𝗗𝗔𝗥𝗜 𝗔𝗥𝗚𝗘𝗡𝗧𝗜𝗡𝗔, 𝗠𝗔𝗨𝗥𝗢 𝗠𝗘𝗡𝗘𝗠𝗨𝗞𝗔𝗡 𝗦𝗨𝗠𝗕𝗔𝗪𝗔
Salah satu kisah paling menarik datang dari Argentina. Namanya Mauro Nicolas Scabuzzo, mahasiswa yang datang ke Indonesia dan menempuh pendidikan Magister Manajemen dan Inovasi di UTS melalui program Global Ambassador Scholarship. Namun pengalaman Mauro di Sumbawa ternyata berkembang jauh melampaui kegiatan akademik di ruang kuliah.
Ia mulai mengenal kehidupan masyarakat dan kebudayaan Sumbawa. Berbagai tradisi seperti Barapan Kebo, musik, tari, tradisi perkawinan dan kerajinan pandai besi Desa Talwa kemudian menjadi bagian dari pengetahuannya tentang Sumbawa. Bahkan, pengalaman tersebut kemudian ia bawa kembali ke Argentina dan diperkenalkan dalam kegiatan kebudayaan.
Mauro tercatat sebagai mahasiswa asing pertama yang diwisuda UTS pada 2022. Kisahnya menjadi menarik karena hubungan dengan Sumbawa tidak berhenti ketika pendidikan selesai. Seorang mahasiswa yang awalnya datang sebagai orang asing kemudian membawa cerita tentang Sumbawa kembali ke negara asalnya.
Dalam konteks hubungan antarbudaya, pengalaman seperti ini memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar keberhasilan seorang mahasiswa menyelesaikan pendidikan. Pengalaman Mauro memperlihatkan bagaimana seorang mahasiswa internasional dapat menjadi penghubung pengalaman budaya antara Sumbawa dan negara asalnya, Argentina.
𝗞𝗘𝗧𝗜𝗞𝗔 𝗠𝗨𝗦𝗜𝗞 𝗣𝗘𝗥𝗦𝗜𝗔 𝗕𝗘𝗥𝗧𝗘𝗠𝗨 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔 𝗦𝗔𝗠𝗔𝗪𝗔
Dari Iran datang Shafie Noubakht. Ia bukan hanya dikenal sebagai mahasiswa internasional, tetapi juga membawa kekayaan budaya negaranya ke lingkungan kampus. Shafie memainkan daf, alat musik tradisional Persia, dan memperkenalkan musik tersebut dalam berbagai kegiatan yang melibatkan mahasiswa internasional.
Yang menarik, musik Persia kemudian bertemu dengan tradisi musik Sumbawa. Shafie pernah terlibat dalam kegiatan bersama kelompok Sakeco Cinde Bulaeng. Perjumpaan tersebut memperlihatkan bahwa mahasiswa internasional dapat menjadi bagian dari proses pertukaran kebudayaan yang hidup, bukan sekadar simbol keberagaman di lingkungan kampus.
Shafie kemudian menyelesaikan pendidikannya dan termasuk mahasiswa internasional yang diwisuda UTS pada 2024. Dari seorang mahasiswa yang datang dari Iran, ia kemudian menjadi bagian dari cerita hubungan budaya antara Sumbawa dan dunia internasional.
𝗗𝗔𝗥𝗜 𝗠𝗔𝗟𝗜 𝗞𝗘 𝗣𝗨𝗟𝗔𝗨 𝗠𝗢𝗬𝗢
Kisah lainnya datang dari Tidiane Guindo, mahasiswa asal Mali yang mengambil Ekonomi Pembangunan. Perjalanannya di UTS menjadi menarik karena ia tidak hanya belajar teori pembangunan di dalam kelas, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk melihat kehidupan masyarakat secara langsung melalui pengalaman belajar di luar kampus.
Tidiane pernah tinggal selama satu semester di Pulau Moyo. Bagi seorang mahasiswa Ekonomi Pembangunan, pengalaman tersebut memberikan ruang untuk melihat secara langsung bagaimana masyarakat berinteraksi dengan lingkungan, sumber daya alam dan berbagai persoalan pembangunan. Teori yang dipelajari di bangku kuliah kemudian bertemu dengan kenyataan yang ada di lapangan.
Ia juga mengikuti program mobilitas akademik di Universitas Mataram. Pada 2024, Tidiane termasuk mahasiswa internasional yang menyelesaikan pendidikan dan diwisuda UTS. Kisahnya memperlihatkan bahwa lingkungan sekitar kampus dapat menjadi bagian dari proses pendidikan itu sendiri.
𝗗𝗔𝗥𝗜 𝗦𝗨𝗗𝗔𝗡, 𝗕𝗘𝗟𝗔𝗝𝗔𝗥 𝗧𝗘𝗞𝗡𝗢𝗟𝗢𝗚𝗜 𝗗𝗜 𝗦𝗨𝗠𝗕𝗔𝗪𝗔
Dari Sudan terdapat Mohamed Almogtaba Abdelrahman Yousif Ibrahim yang mengambil Teknik Mesin. Ia tiba di Sumbawa pada 2022 dan menjadi bagian dari mahasiswa internasional yang memperoleh pengalaman belajar dalam lingkungan masyarakat lokal.
Pengalaman di Pulau Moyo menjadi salah satu bagian menarik dari perjalanan tersebut. Bagi mahasiswa teknik, kehidupan masyarakat memberikan perspektif bahwa teknologi pada akhirnya tidak berdiri sendiri. Teknologi harus berhubungan dengan kebutuhan manusia, kondisi lingkungan dan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Untuk status terakhir Almogtaba, sumber publik yang tersedia belum cukup kuat untuk memastikan apakah ia telah menjadi alumni. Karena itu, lebih tepat menyebutnya sebagai mahasiswa internasional yang pernah belajar di UTS daripada memastikan status kelulusannya tanpa bukti yang memadai.
𝗦𝗜𝗘𝗥𝗥𝗔 𝗟𝗘𝗢𝗡𝗘 𝗗𝗔𝗡 𝗗𝗨𝗡𝗜𝗔 𝗜𝗡𝗙𝗢𝗥𝗠𝗔𝗧𝗜𝗞𝗔
Dari Sierra Leone terdapat David Tamba Ndomaina yang mengambil Informatika. Ia juga menjadi bagian dari program mobilitas akademik mahasiswa internasional UTS. Pada 2022, David bersama mahasiswa dari beberapa negara lain mengikuti kegiatan akademik di Universitas Multimedia Nusantara.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa mahasiswa internasional UTS tidak hanya bergerak dari negara asal menuju Sumbawa. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal perguruan tinggi lain di Indonesia, memperluas jaringan dan memperoleh pengalaman akademik di luar kampus asal.
David kemudian tercatat sebagai bagian dari mahasiswa internasional UTS yang mengikuti pengalaman mobilitas akademik di perguruan tinggi lain di Indonesia. Perjalanannya menjadi contoh bagaimana mahasiswa dari negara Afrika Barat dapat memperoleh pendidikan di Sumbawa sekaligus mengikuti pengalaman akademik lintas perguruan tinggi di Indonesia.
𝗣𝗔𝗞𝗜𝗦𝗧𝗔𝗡 𝗗𝗔𝗡 𝗣𝗥𝗔𝗡𝗖𝗜𝗦 𝗗𝗜 𝗞𝗔𝗠𝗣𝗨𝗦 𝗦𝗨𝗠𝗕𝗔𝗪𝗔
Ada pula Arsalan Ahmad dari Pakistan dan Emma Muhidinne dari Prancis. Keduanya menempuh pendidikan magister di UTS dan kemudian termasuk mahasiswa internasional yang menyelesaikan pendidikan serta mengikuti wisuda pada 2024.
Arsalan memiliki pengalaman akademik yang menarik karena terlibat dalam kajian yang membandingkan inovasi dalam sistem pendidikan tinggi Indonesia dan Pakistan. Perbedaan dua negara justru menjadi sumber perspektif akademik yang dapat memperkaya penelitian.
Kehadiran Emma dari Prancis juga memperlihatkan bahwa jangkauan internasional UTS tidak hanya datang dari negara-negara Asia dan Afrika. Mahasiswa dari Eropa pun pernah memilih Sumbawa sebagai tempat untuk menempuh pendidikan tinggi.
𝗕𝗨𝗞𝗔𝗡 𝗛𝗔𝗡𝗬𝗔 𝗦𝗔𝗧𝗨 𝗔𝗧𝗔𝗨 𝗗𝗨𝗔 𝗡𝗘𝗚𝗔𝗥𝗔
Dalam berbagai publikasi UTS, mahasiswa internasional pernah disebut berasal dari Argentina, Maroko, Yaman, Iran, Belarus, Pakistan, Palestina, Sierra Leone, Mali, Zimbabwe, Sudan, Prancis dan sejumlah negara lainnya. Pada 2023, UTS menyampaikan bahwa terdapat 19 mahasiswa asing yang berasal dari 16 negara.
Angka tersebut tentu perlu dibaca berdasarkan konteks tahun akademik. Jumlah mahasiswa asing dapat berubah karena adanya mahasiswa baru, mahasiswa yang lulus maupun mahasiswa yang menyelesaikan masa studinya. Karena itu, angka dari tahun yang berbeda tidak dapat begitu saja dijumlahkan sebagai jumlah keseluruhan mahasiswa internasional sepanjang sejarah UTS.
Namun satu hal cukup jelas: lingkungan akademik UTS pernah menjadi ruang pertemuan mahasiswa dari berbagai belahan dunia.
𝗞𝗔𝗠𝗣𝗨𝗦 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗠𝗘𝗡𝗝𝗔𝗗𝗜 𝗠𝗜𝗡𝗜𝗔𝗧𝗨𝗥 𝗗𝗨𝗡𝗜𝗔
Bayangkan sebuah ruang kelas di Sumbawa. Di dalamnya dapat bertemu mahasiswa dari Sumbawa, Sumatera Utara, Jawa atau daerah lain di Indonesia bersama mahasiswa yang lahir dan tumbuh di Afrika, Asia, Eropa atau Amerika Latin. Mereka mungkin menggunakan bahasa yang berbeda, memiliki kebiasaan berbeda dan membawa pengalaman kehidupan yang berbeda, tetapi semuanya duduk dalam ruang akademik yang sama.
Situasi seperti itu memberikan pengalaman pendidikan yang tidak selalu bisa diperoleh hanya dari buku. Mahasiswa belajar memahami cara berpikir orang lain, berkomunikasi dengan latar budaya yang berbeda dan beradaptasi terhadap lingkungan baru. Mahasiswa asing pun mengalami hal yang sama ketika mereka mencoba memahami masyarakat dan kebudayaan Indonesia.
Dengan demikian, internasionalisasi kampus bukan hanya tentang mendatangkan mahasiswa asing. Mahasiswa asing juga menjadi bagian dari proses pembelajaran bagi mahasiswa Indonesia.
𝗦𝗨𝗠𝗕𝗔𝗪𝗔 𝗦𝗘𝗕𝗔𝗚𝗔𝗜 𝗥𝗨𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗘𝗥𝗝𝗨𝗠𝗣𝗔𝗔𝗡 𝗕𝗨𝗗𝗔𝗬𝗔
Kisah Mauro, Shafie dan Tidiane memperlihatkan bahwa hubungan internasional dapat terjadi melalui pengalaman yang sangat sederhana. Seorang mahasiswa Argentina mengenal Barapan Kebo dan kemudian memperkenalkannya di Argentina. Seorang mahasiswa Iran memainkan musik Persia dan kemudian berinteraksi dengan seniman Sumbawa. Seorang mahasiswa Mali belajar tentang pembangunan melalui pengalaman hidup di Pulau Moyo.
Tidak ada satu pun dari pengalaman tersebut yang hanya berbicara mengenai teori. Semuanya merupakan perjumpaan antara manusia, lingkungan dan kebudayaan. Di situlah pendidikan memperoleh dimensi yang lebih luas.
Sumbawa tidak hanya menjadi tempat mereka belajar tentang Indonesia. Sumbawa juga menjadi tempat mereka mengalami Indonesia secara langsung.
𝗗𝗔𝗥𝗜 𝗦𝗨𝗠𝗕𝗔𝗪𝗔, 𝗗𝗨𝗡𝗜𝗔 𝗧𝗜𝗗𝗔𝗞 𝗟𝗔𝗚𝗜 𝗧𝗘𝗥𝗔𝗦𝗔 𝗝𝗔𝗨𝗛
Ada satu pelajaran penting dari perjalanan mahasiswa internasional tersebut. Selama ini jarak sering dianggap sebagai kelemahan daerah. Sumbawa berada jauh dari pusat pemerintahan, pusat ekonomi dan kota-kota pendidikan utama Indonesia. Tetapi kehadiran mahasiswa internasional memperlihatkan bahwa jarak tidak selalu menentukan seberapa jauh sebuah daerah dapat berhubungan dengan dunia.
Sebuah kampus tidak harus berada di Jakarta, Bandung atau Yogyakarta untuk membangun jejaring internasional. Dengan program yang tepat, lingkungan akademik yang terbuka dan kesempatan pendidikan yang menarik, sebuah perguruan tinggi di daerah pun dapat menjadi titik pertemuan dunia.
Dalam konteks itulah UTS menjadi menarik untuk dikaji. Bukan karena harus dibandingkan secara langsung dengan universitas besar lainnya, tetapi karena ia memperlihatkan bagaimana sebuah perguruan tinggi daerah mencoba membangun identitas yang lebih luas melalui pendidikan, beasiswa, mobilitas mahasiswa dan hubungan internasional.
𝗔𝗣𝗔 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗠𝗘𝗥𝗘𝗞𝗔 𝗕𝗔𝗪𝗔 𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡𝗚?
Ketika mahasiswa internasional menyelesaikan pendidikannya, mereka tentu membawa pulang ijazah. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih sulit diukur: pengalaman hidup selama berada di Sumbawa.
Mereka membawa cerita tentang masyarakat yang mereka kenal, makanan yang mereka rasakan, teman-teman yang mereka temui, bahasa yang mereka dengar dan kebudayaan yang mereka pelajari. Ketika cerita tersebut dibawa pulang ke Argentina, Iran, Mali, Sudan, Pakistan, Sierra Leone, Prancis atau negara lainnya, Sumbawa ikut berjalan bersama mereka.
Dalam pengertian inilah mahasiswa internasional dapat menjadi semacam duta informal Sumbawa. Mereka tidak diberi jabatan resmi untuk mempromosikan daerah, tetapi pengalaman mereka sendiri membuat mereka memiliki cerita tentang Sumbawa yang suatu saat dapat mereka bagikan kepada dunia.
𝗗𝗔𝗥𝗜 𝗞𝗔𝗞𝗜 𝗢𝗟𝗔𝗧 𝗠𝗔𝗥𝗔𝗦 𝗠𝗘𝗡𝗨𝗝𝗨 𝗗𝗨𝗡𝗜𝗔
Pada akhirnya, kisah mahasiswa internasional UTS bukan sekadar cerita tentang berapa banyak mahasiswa asing yang pernah datang ke Sumbawa. Di balik angka-angka tersebut terdapat manusia dengan perjalanan hidup masing-masing. Ada yang datang dari Argentina, membawa pulang cerita tentang kebudayaan Sumbawa. Ada yang datang dari Iran dan mempertemukan musik Persia dengan tradisi Samawa. Ada yang datang dari Mali dan belajar pembangunan melalui pengalaman di Pulau Moyo.
Ada pula mahasiswa dari Sudan, Sierra Leone, Pakistan, Prancis, Belarus, Yaman, Palestina, Maroko, Zimbabwe dan negara lainnya yang pernah menjadi bagian dari perjalanan internasional UTS. Sebagian telah menyelesaikan pendidikan dan menjadi alumni, sementara untuk sebagian lainnya dokumentasi publik belum cukup untuk memastikan status terakhir mereka.
Mereka datang dengan bahasa dan kebudayaan yang berbeda, tetapi memiliki satu tujuan yang sama: belajar dan mencari pengalaman baru.
Dan mungkin di situlah makna paling menarik dari perjalanan mereka.
Sumbawa tidak harus menjadi pusat dunia untuk terhubung dengan dunia. Sebuah kampus di daerah pun dapat membuka pintu, mengundang dunia datang, lalu memperkenalkan Sumbawa kepada mereka.
Dari kaki Olat Maras, dunia ternyata tidak sejauh yang kita bayangkan.
Karena ketika pendidikan membuka pintu, ribuan kilometer bukan lagi sekadar jarak. Ia berubah menjadi jembatan.
𝗖𝗔𝗧𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗥𝗘𝗗𝗔𝗞𝗦𝗜
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membesar-besarkan atau mempromosikan institusi tertentu. Desa Smart berusaha menelusuri sebuah fenomena berdasarkan informasi yang tersedia untuk publik, kemudian menyusunnya dalam bentuk tulisan yang lebih mudah dibaca.
Nama, negara asal, program studi, program beasiswa, pengalaman mahasiswa, jumlah mahasiswa maupun tahun kejadian kami tempatkan berdasarkan sumber yang dapat ditelusuri. Data dari tahun yang berbeda juga tidak kami perlakukan sebagai satu angka kumulatif.
Sementara itu, beberapa bagian dalam tulisan merupakan konteks dan refleksi redaksional untuk membantu pembaca memahami makna dari fakta yang disajikan. Karena itu, pembaca sangat terbuka untuk memberikan koreksi apabila menemukan data atau sumber yang lebih kuat.
Bagi Desa Smart, kritik bukan persoalan untuk dibantah, tetapi bagian dari proses memastikan informasi yang disampaikan kepada publik tetap dapat dipertanggungjawabkan.
𝗦𝗨𝗠𝗕𝗘𝗥 𝗥𝗨𝗝𝗨𝗞𝗔𝗡
1. Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) — Fantastis, Tahun Ini 2.740 Calon Mahasiswa Asing dari 80 Negara Daftar ke UTS.
2. Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) — UTS Gelar GAS in RESPEK International untuk 23 Mahasiswa Asing dari 23 Negara.
3. Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) — UTS-GAS, Program Inovasi untuk Mahasiswa Asing di Universitas Teknologi Sumbawa.
4. Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) — More International Students Choose to Build Their Future at UTS.
5. Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) — Publikasi mengenai perkembangan mahasiswa internasional dan prestasi UTS.
6. Samawarea — Jumlah Mahasiswa UTS Meningkat, Capai 5.000 Orang Tahun 2024.
Catatan: sumber rujukan digunakan sebagai bahan penelusuran informasi. Data mengenai mahasiswa, jumlah mahasiswa asing, status studi dan alumni merujuk pada informasi yang tersedia pada periode sumber diterbitkan dan dapat mengalami perubahan.
#UniversitasTeknologiSumbawa #UTS #Sumbawa #MahasiswaInternasional #PendidikanTinggi #Beasiswa #PendidikanIndonesia #NTB #Sumbawa