Tanggal: 14 Sep 2026
Kategori: Berita
Post dari: Admin
493 WEBSITE DESA/KELURAHAN TERPANTAU
Sumber Rujukan https://pantau.desasmart.id/public/statistik_opensid.php
Digitalisasi desa semakin menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan informasi kepada masyarakat. Website desa bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi dapat menjadi salah satu pintu utama masyarakat untuk memperoleh informasi tentang desa, pemerintahan, pelayanan, kegiatan, hingga potensi wilayah.
Hingga 8 September 2026, monitoring Desa Smart mencatat sebanyak 493 website desa/kelurahan yang tersebar di 10 Kabupaten/Kota di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Namun, angka 493 tersebut bukan sekadar angka jumlah website. Di baliknya terdapat gambaran menarik mengenai sejauh mana website desa benar-benar aktif dan dimanfaatkan.
ππππππππππππ ππππ πππππ πππππππ ππππππππ πππππππ
Memiliki alamat website belum tentu berarti sebuah desa telah menjalankan digitalisasi secara optimal.
Website yang aktif, dapat diakses masyarakat, memiliki informasi yang diperbarui, serta didukung oleh sistem dan fitur yang memadai akan memiliki nilai lebih dibandingkan website yang hanya tersedia tetapi tidak lagi aktif.
Karena itu, monitoring tidak hanya melihat apakah sebuah desa memiliki website. Data juga memperhatikan status Online atau Offline, versi OpenSID, platform yang digunakan, fitur Premium, hingga tema yang diterapkan.
Dari sinilah kita dapat melihat kondisi digitalisasi desa secara lebih nyata.
ππππππππ πππ πππππππ ππππππ, πππ πππππππ ππ π ππππ
Dari total 493 website yang terpantau, sebanyak 311 website atau 63,1% berada dalam kondisi Online.
Sementara itu, 182 website atau 36,9% tercatat Offline.
Tidak ada website yang masuk kategori status tidak diketahui dalam pemantauan PANTAU DESA kali ini.
Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas website desa yang terpantau masih dapat diakses. Namun, hampir 37% website berada dalam kondisi Offline, sehingga masih terdapat pekerjaan yang cukup besar untuk memastikan keberlanjutan layanan informasi digital di tingkat desa.
Website desa seharusnya tidak berhenti pada tahap pembangunan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga agar website tetap hidup, dapat diakses, dan terus memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat.
ππππππ πππππ πππππππ πππππππ ππππππ πππππππ πππππππππ
Jika dilihat berdasarkan Kabupaten/Kota, Lombok Timur berada di posisi pertama dengan 186 website, disusul Sumbawa sebanyak 103 website dan Sumbawa Barat sebanyak 65 website.
Selanjutnya terdapat Bima 32 website, Lombok Tengah 32 website, Kota Bima 30 website, Lombok Barat 20 website, Lombok Utara 12 website, Kota Mataram 7 website, dan Dompu 6 website.
Perbedaan jumlah tersebut tentu tidak serta-merta menunjukkan tingkat keberhasilan digitalisasi masing-masing daerah. Jumlah desa/kelurahan setiap wilayah berbeda, sehingga yang lebih menarik untuk diperhatikan adalah bagaimana website tersebut digunakan dan dipelihara.
π ππππ πππππππ: ππππππ ππππ πππππππ ππππππ ππππππ?
Salah satu data yang menarik dari monitoring kali ini adalah penggunaan fitur Premium.
Dari 493 website, terdapat 97 website atau 19,7% yang tercatat menggunakan fitur Premium. Sementara 396 website atau 80,3% tercatat dalam kategori Umum.
Data Premium menjadi menarik karena dapat memberikan gambaran mengenai tingkat pemanfaatan fitur yang tersedia dalam ekosistem OpenSID.
Semakin banyak fitur yang dimanfaatkan, semakin besar pula peluang sebuah website tidak hanya digunakan sebagai tempat menampilkan informasi, tetapi berkembang menjadi bagian dari pengelolaan informasi dan pelayanan digital desa.
Menariknya, Kota Bima mencatat 30 website dan seluruhnya tercatat Premium. Sementara di Kabupaten Bima terdapat 12 website Premium dari 32 website yang terpantau.
Di Lombok Timur, wilayah dengan jumlah website terbanyak, terdapat 43 website Premium dari total 186 website.
Angka-angka ini menunjukkan bahwa pemanfaatan fitur Premium memiliki pola yang berbeda di setiap wilayah dan menjadi salah satu indikator yang menarik untuk terus dipantau.
πππππππ πππππ πππππ πππππππ πππππππ
Ketika berbicara tentang OpenSID, pembahasannya sebenarnya tidak berhenti pada tampilan halaman depan sebuah website, karena OpenSID merupakan Aplikasi berbasis Website.
Di dalamnya terdapat berbagai fitur dan komponen yang dapat mendukung pengelolaan data, informasi, serta pelayanan pemerintahan desa.
Karena itu, keberadaan website perlu dilihat bersama dengan pemanfaatan sistem dan fitur yang digunakan.
Sebuah website mungkin terlihat sederhana dari luar, tetapi bisa saja memiliki sistem yang aktif dan dimanfaatkan untuk kebutuhan pemerintahan desa. Sebaliknya, website yang terlihat menarik belum tentu aktif digunakan secara maksimal.
πππππππ ππππππ πππππ πππππ πππππππ πππππ πππππππ
Status Online merupakan salah satu indikator penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan digitalisasi desa.
Website yang Online tetapi jarang diperbarui tentu berbeda dengan website yang aktif menyajikan berita, informasi pelayanan, dokumen, kegiatan pemerintahan, serta berbagai informasi yang dibutuhkan masyarakat.
Karena itu, monitoring digitalisasi desa perlu bergerak lebih jauh dari sekadar pertanyaan βOnline atau Offline?β
Pertanyaan berikutnya adalah: Apakah website tersebut aktif? Apakah informasinya diperbarui? Apakah fitur yang tersedia dimanfaatkan? Dan apakah masyarakat benar-benar mendapatkan manfaat dari keberadaannya?
πππππππ ππππππ ππππ, πππππ πππππ
Data 493 website desa/kelurahan yang terpantau memberikan gambaran awal mengenai kondisi digitalisasi desa di NTB.
Di satu sisi, lebih dari 60% website tercatat Online. Ini merupakan perkembangan yang positif.
Namun di sisi lain, masih terdapat 182 website Offline. Selain itu, proporsi website Premium baru mencapai 19,7%, sehingga masih terbuka ruang yang cukup besar untuk meningkatkan pemanfaatan fitur dan layanan digital.
Data seperti ini penting bukan untuk sekadar memberikan peringkat, tetapi untuk melihat bagian mana yang sudah berjalan dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki.
Digitalisasi desa pada akhirnya bukan perlombaan siapa yang memiliki website paling banyak, tetapi bagaimana teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi pemerintahan dan masyarakat.
πππππππππππππ πππππ ππππ βπππππ πππππ πππππππ?β
Pertanyaan yang lebih penting sekarang adalah:
Apakah website desa masih aktif?
Apakah informasi di dalamnya terus diperbarui?
Apakah fitur yang tersedia benar-benar dimanfaatkan?
Apakah masyarakat mudah mendapatkan informasi dan pelayanan melalui kanal digital tersebut?
Dan yang tidak kalah penting:
Apakah digitalisasi tersebut dapat dipertahankan dalam jangka panjang?
Karena website desa yang baik bukan hanya website yang bisa dibuka hari ini, tetapi website yang terus hidup, dikelola, diperbarui, dan benar-benar digunakan untuk mendukung pelayanan serta keterbukaan informasi desa.
DESA SMART | ππππππππππ ππππππππππππ ππππ
Monitoring ini merupakan bagian dari upaya melihat perkembangan digitalisasi desa secara lebih objektif berdasarkan data yang terpantau.
493 website bukanlah garis akhir.
Ini adalah gambaran tentang perjalanan digitalisasi desa di NTB β tentang apa yang sudah berjalan, apa yang masih mengalami kendala, dan apa yang masih bisa dikembangkan.
Sebab pada akhirnya, desa digital bukan hanya tentang memiliki website, tetapi tentang menghadirkan teknologi yang benar-benar hidup dan bermanfaat bagi masyarakat.
Sumber Rujukan https://pantau.desasmart.id/public/statistik_opensid.php
#DesaSmart #OpenSID #DigitalisasiDesa #DesaDigital #WebsiteDesa #TransformasiDigital #NTB #PemerintahanDesa #TeknologiDesa #InformasiDesa