๐Ÿ“ฐ PELANATIKAN PANITIA PILKADES 2027 - Belanting (18 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ Persiapkan Pemilihan Kepala Desa periode 2027-2035, Desa Pijot Utara Gelar Musdes Pembentukan panitia Pilkades - Pijot Utara (17 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ Pembentukan Panitia Pemilihan BPD "Desa Pejaring" - Pejaring (17 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ MUSYAWARAH DESA PEMBENTUKAN PANITIA PILKADES SERENTAK 2027 DESA NYIUR TEBEL - Nyiur Tebel (17 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ Malam Pembukaan Festival Junyung Budaya Jlid III Desa Lape Tahun 2026 - Lape (17 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ BPD Desa Gelora Resmi Bentuk dan Lantik Panitia Pilkades 2027 - Gelora (17 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ KEGIATAN PAMSIMAS - Belanting (16 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ MUSRENBANGDES PENUSUNAN RKPDesa TAHUN 2027 - Belanting (16 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ PEMBENTUKAN PANITIA PEMILIHAN KEPALA DESA WARINGIN RESMI TERBENTUK - Waringin (16 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ Pembentukan Panitia Pemilihan Kepala Desa (PILKADES) Tahun 2026 - Dames Damai (16 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ ATURAN PILKADES PP 16 TAHUN 2026 - Nyiur Tebel (16 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ MUSDES PEMBENTUKAN PANITIA PILKADES - Belanting (16 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ Kantor Desa Kelungkung - Kelungkung (15 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA (SOTK) - Nyiur Tebel (15 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ TUGAS DAN POKOK FUNGSI KEPALA DESA - Nyiur Tebel (15 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ TATA KELOLA PEMERINTAHAN DESA - Nyiur Tebel (15 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ PEMERINTAH DESA GELORA LAKSANAKAN MUSRENBANGDES T.A. 2027 - Gelora (14 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ SCREENING/BAKTI SOSIAL KATARAK DAN PTERYGIUM - Masbagik Utara (11 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ RAPAT INTERNAL - Masbagik Utara (11 Sep 2026) ๐Ÿ“ฐ SERAH TERIMA BIBIT CABAI OLEH TP.PKK KABUPATEN LOMBOK TIMUR - Masbagik Utara (11 Sep 2026) ๐— ๐—˜๐—ก๐—˜๐—Ÿ๐—จ๐—ฆ๐—จ๐—ฅ๐—œ ๐—ฅ๐—˜๐—ž๐—”๐—  ๐—๐—˜๐—๐—”๐—ž ๐—ฃ๐—˜๐— ๐—˜๐—ฅ๐—œ๐—ก๐—ง๐—”๐—›๐—”๐—ก ๐—ก๐—ง๐—• ๐—œ๐—ค๐—•๐—”๐—Ÿโ€“๐——๐—œ๐—ก๐——๐—”
Foto Kegiatan

๐— ๐—˜๐—ก๐—˜๐—Ÿ๐—จ๐—ฆ๐—จ๐—ฅ๐—œ ๐—ฅ๐—˜๐—ž๐—”๐—  ๐—๐—˜๐—๐—”๐—ž ๐—ฃ๐—˜๐— ๐—˜๐—ฅ๐—œ๐—ก๐—ง๐—”๐—›๐—”๐—ก ๐—ก๐—ง๐—• ๐—œ๐—ค๐—•๐—”๐—Ÿโ€“๐——๐—œ๐—ก๐——๐—”

Tanggal: 26 Sep 2026

Kategori: Editorial

Post dari: Admin

๐——๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐Ÿฎ๐Ÿฌ ๐—™๐—ฒ๐—ฏ๐—ฟ๐˜‚๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿฎ๐Ÿฑ ๐—ต๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ ๐—ฆ๐—ฒ๐—ฝ๐˜๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ ๐Ÿฎ๐Ÿฌ๐Ÿฎ๐Ÿฒ: ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐˜, ๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—บ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—ฟ, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ถ ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ ๐˜๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป๐—ป๐˜†๐—ฎ?

Ada pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar bertanya apakah pemerintahan baru NTB sudah berhasil atau belum.

Pertanyaannya adalah: apa yang sebenarnya dapat dibuktikan oleh data setelah sekitar satu tahun tujuh bulan pemerintahan Lalu Muhamad Iqbalโ€“Indah Dhamayanti Putri?

Pertanyaan ini penting karena sebuah pemerintahan tidak cukup dinilai dari banyaknya program yang diumumkan. Ia perlu dilihat dari beberapa sisi sekaligus: hasil pembangunan, kualitas pelayanan publik, pengelolaan anggaran, tata kelola pemerintahan, serta bagaimana masyarakat sendiri menilai pelayanan yang mereka terima.

Dari titik inilah rekam jejak Iqbalโ€“Dinda perlu dibaca.

๐—ฆ๐—˜๐—ง๐—”๐—›๐—จ๐—ก ๐—Ÿ๐—˜๐—•๐—œ๐—›, ๐—•๐—จ๐—ž๐—”๐—ก ๐——๐—จ๐—” ๐—ง๐—”๐—›๐—จ๐—ก

Lalu Muhamad Iqbal dan Indah Dhamayanti Putri resmi dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB periode 2025โ€“2030 pada 20 Februari 2025. 

Artinya, per September 2026 pemerintahan ini baru berjalan sekitar satu tahun tujuh bulan.

Ini penting untuk diletakkan sejak awal agar pembacaan data tidak keliru.

Sebagian indikator pembangunan memiliki jeda waktu statistik dan tidak seluruh perubahan dapat langsung dikaitkan sebagai akibat kebijakan pemerintahan yang sedang berjalan. Karena itu, angka-angka berikut lebih tepat dibaca sebagai indikator kondisi NTB selama masa pemerintahan Iqbalโ€“Dinda, bukan sebagai bukti tunggal keberhasilan atau kegagalan mereka.

๐—ž๐—˜๐— ๐—œ๐—ฆ๐—ž๐—œ๐—ก๐—”๐—ก ๐—ง๐—จ๐—ฅ๐—จ๐—ก, ๐—ง๐—”๐—ฃ๐—œ ๐—”๐—ก๐—š๐—ž๐—”๐—ก๐—ฌ๐—” ๐— ๐—”๐—ฆ๐—œ๐—› ๐—•๐—˜๐—ฆ๐—”๐—ฅ

Data terbaru BPS memberikan satu fakta yang cukup jelas.

Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin NTB berada pada 11,17 persen, atau sekitar 628,50 ribu orang.

Angka tersebut turun 0,61 poin persentase dibandingkan Maret 2025 dan turun 0,21 poin dibandingkan September 2025. 

Namun ada detail yang tidak boleh dilewatkan.

Kemiskinan di wilayah perdesaan pada Maret 2026 tercatat 11,08 persen, bahkan mengalami kenaikan dibandingkan September 2025 yang sebesar 11,02 persen. Sementara kemiskinan perkotaan turun menjadi 11,25 persen dari 11,70 persen. 

Artinya, membaca keberhasilan pengentasan kemiskinan hanya dari satu angka provinsi akan terlalu sederhana.

Ada penurunan secara agregat, tetapi distribusi persoalannya masih membutuhkan perhatian.

Di sinilah Program Desa Berdaya menjadi salah satu kebijakan yang menarik untuk diamati.

Pemerintah Provinsi NTB menyatakan program tersebut dirancang untuk menggabungkan pengentasan kemiskinan ekstrem, penguatan ekonomi keluarga, ketahanan pangan dan pengembangan potensi desa. Untuk pendekatan transformatif, pemerintah menetapkan sasaran 106 desa miskin ekstrem dengan sekitar 16.876 rumah tangga atau 44.013 jiwa. 

Pada 2026, pendekatan tematik juga diarahkan kepada desa-desa yang memiliki potensi pertanian, pariwisata, lingkungan dan sektor produktif lainnya. 

Tetapi pertanyaan berikutnya jauh lebih penting:

Berapa banyak keluarga yang benar-benar keluar dari kemiskinan secara permanen setelah intervensi tersebut?

Jawaban atas pertanyaan itu belum dapat diberikan hanya berdasarkan jumlah program atau jumlah penerima bantuan.

๐—œ๐—ฃ๐—  ๐—ก๐—”๐—œ๐—ž: ๐—”๐——๐—” ๐—ž๐—˜๐— ๐—”๐—๐—จ๐—”๐—ก, ๐—ง๐—˜๐—ง๐—”๐—ฃ๐—œ ๐—ฃ๐—˜๐—ก๐——๐—œ๐——๐—œ๐—ž๐—”๐—ก ๐— ๐—”๐—ฆ๐—œ๐—› ๐— ๐—˜๐—ก๐—๐—”๐——๐—œ ๐—ฃ๐—˜๐—ž๐—˜๐—ฅ๐—๐—”๐—”๐—ก ๐—ฅ๐—จ๐— ๐—”๐—›

IPM NTB tahun 2025 mencapai 73,97, meningkat 0,87 poin dibandingkan 2024 yang berada pada 73,10.

BPS mencatat harapan hidup meningkat menjadi 72,60 tahun, sementara rata-rata lama sekolah meningkat dari 7,87 menjadi 8,21 tahun. 

Angka ini memberikan gambaran adanya peningkatan pada beberapa dimensi pembangunan manusia.

Tetapi rata-rata lama sekolah 8,21 tahun juga menyampaikan pesan lain: perjalanan pendidikan masyarakat NTB masih panjang.

Dengan kata lain, kenaikan IPM merupakan perkembangan yang perlu dicatat, tetapi belum otomatis berarti persoalan kualitas manusia telah selesai.

๐——๐—”๐—ฅ๐—œ ๐—ฃ๐—ฅ๐—ข๐—š๐—ฅ๐—”๐—  ๐—ž๐—˜ ๐——๐—”๐—˜๐—ฅ๐—”๐—›: ๐——๐—˜๐—ฆ๐—” ๐—•๐—˜๐—ฅ๐——๐—”๐—ฌ๐—” ๐——๐—œ๐—๐—”๐——๐—œ๐—ž๐—”๐—ก ๐—ฆ๐—ง๐—ฅ๐—”๐—ง๐—˜๐—š๐—œ

Salah satu ciri yang terlihat dari pemerintahan Iqbalโ€“Dinda adalah upaya menjadikan desa sebagai titik masuk pembangunan.

Pemerintah sendiri menyebut tiga pilar utama pembangunan NTB adalah pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan dan pariwisata. 

Desa Berdaya kemudian ditempatkan sebagai instrumen untuk menghubungkan ketiga agenda tersebut dengan kondisi nyata masyarakat.

Di Desa Mekarsari, misalnya, pemerintah melaporkan 115 kepala keluarga miskin ekstrem memperoleh bantuan modal usaha Rp7 juta per keluarga dan 19 keluarga memperoleh bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni. 

Data tersebut menunjukkan bahwa program telah memasuki tahap implementasi.

Namun ukuran akhirnya bukan sekadar berapa keluarga menerima bantuan.

Ukuran yang lebih substantif adalah:

apakah keluarga tersebut kemudian memiliki pendapatan yang lebih stabil, mampu memenuhi kebutuhan dasar, dan tidak kembali ke garis kemiskinan?

Itulah pekerjaan rumah berikutnya.

๐—ž๐—ข๐—ก๐—˜๐—ž๐—ง๐—œ๐—ฉ๐—œ๐—ง๐—”๐—ฆ ๐— ๐—˜๐—ก๐—œ๐—ก๐—š๐—ž๐—”๐—ง, ๐—ง๐—”๐—ฃ๐—œ ๐—ฃ๐—˜๐—ฅ๐—ง๐—”๐—ก๐—ฌ๐—”๐—”๐—ก ๐—ก๐—ฌ๐—” ๐—”๐——๐—”๐—Ÿ๐—”๐—› ๐— ๐—จ๐—Ÿ๐—ง๐—œ๐—ฃ๐—Ÿ๐—œ๐—˜๐—ฅ ๐—˜๐—™๐—˜๐—ž๐—ก๐—ฌ๐—”

Sektor konektivitas juga menunjukkan perkembangan.

Pemerintah Provinsi NTB melaporkan jumlah penumpang Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid sepanjang 2025 mencapai 2.497.163 penumpang, dibandingkan 2.377.410 penumpang pada 2024. 

Kenaikan mobilitas tentu relevan bagi pariwisata, perdagangan dan aktivitas ekonomi.

Namun peningkatan mobilitas belum dengan sendirinya berarti peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pertanyaan berikutnya adalah:

berapa besar peningkatan konektivitas tersebut berubah menjadi investasi, lapangan kerja, pendapatan UMKM, kunjungan wisatawan yang lebih lama, serta perputaran ekonomi yang dirasakan masyarakat di luar pusat-pusat pertumbuhan?

Di sinilah data sektoral perlu terus dibaca bersama.

๐—”๐—ก๐—š๐—š๐—”๐—ฅ๐—”๐—ก: ๐——๐—”๐—ฅ๐—œ ๐—”๐—ก๐—š๐—ž๐—” ๐—ฅ๐—˜๐—”๐—Ÿ๐—œ๐—ฆ๐—”๐—ฆ๐—œ ๐—ž๐—˜ ๐—ฃ๐—˜๐—ฅ๐—ฆ๐—ข๐—”๐—Ÿ๐—”๐—ก ๐—ง๐—”๐—ง๐—” ๐—ž๐—˜๐—Ÿ๐—ข๐—Ÿ๐—”

LKPJ Pemerintah Provinsi NTB Tahun 2025 mencatat realisasi pendapatan daerah mencapai 99,79 persen dari target, sedangkan realisasi belanja mencapai 93,14 persen. 

Tetapi pada September 2026 muncul persoalan baru dalam proses perubahan APBD.

Badan Anggaran DPRD NTB berkonsultasi dengan Kemendagri mengenai evaluasi Perubahan APBD 2026 dan secara terbuka membahas terbatasnya waktu efektif pelaksanaan program menjelang akhir tahun.

Dalam konsultasi itu juga disebut adanya proses reviu Inspektorat terhadap sejumlah belanja pengadaan barang dan jasa yang berkaitan dengan atensi KPK, termasuk sebagian belanja yang berkaitan dengan pokok-pokok pikiran DPRD. 

Ini bukan berarti telah terjadi pelanggaran.

Justru proses reviu dan evaluasi merupakan bagian dari mekanisme pengawasan.

Tetapi secara tata kelola, persoalannya penting: anggaran yang sudah direncanakan harus memiliki cukup waktu untuk dilaksanakan, diawasi, dan menghasilkan manfaat sebelum tahun anggaran berakhir.

Kemendagri juga menekankan pentingnya memastikan kegiatan fisik dapat diselesaikan dalam tahun anggaran berjalan. 

Dengan demikian, tantangan pemerintahan Iqbalโ€“Dinda tidak hanya soal mendapatkan anggaran, tetapi juga mengubah anggaran menjadi program yang tepat waktu, tepat sasaran dan dapat dipertanggungjawabkan.

๐—œ๐—ก๐—ง๐—˜๐—š๐—ฅ๐—œ๐—ง๐—”๐—ฆ: ๐—œ๐—ก๐—œ๐—Ÿ๐—”๐—› ๐——๐—”๐—ง๐—” ๐—˜๐—ž๐—ฆ๐—ง๐—˜๐—ฅ๐—ก๐—”๐—Ÿ ๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐—ง๐—œ๐——๐—”๐—ž ๐—•๐—ข๐—Ÿ๐—˜๐—› ๐——๐—œ๐—”๐—•๐—”๐—œ๐—ž๐—”๐—ก

Ada satu indikator yang justru membuat pembacaan pemerintahan ini menjadi lebih kompleks.

Hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) KPK 2025 untuk NTB menunjukkan indeks 64,93 dan masuk kategori โ€œRentanโ€. Komponen internal tercatat 72,82, eksternal 88,46 dan eksper 62,63. 

Pada September 2026, KPK kembali menyampaikan bahwa nilai SPI NTB 64,93 masih berada di bawah ambang batas nasional 72,99 dan menyebut tata kelola pemerintahan NTB masih rentan terhadap praktik korupsi. 

Angka ini bukan survei kepuasan terhadap Gubernur dan Wakil Gubernur.

SPI mengukur dimensi integritas dan risiko korupsi, sehingga harus dibaca sebagai indikator tata kelola, bukan sebagai ukuran popularitas pemerintahan.

Namun justru karena berasal dari instrumen KPK, data ini penting ditempatkan dalam pembacaan rekam jejak pemerintahan.

Sebab pembangunan tidak hanya membutuhkan program yang banyak, tetapi juga sistem pemerintahan yang mampu menjaga integritas dalam menjalankan program tersebut.

๐—Ÿ๐—”๐—Ÿ๐—จ, ๐—•๐—”๐—š๐—”๐—œ๐— ๐—”๐—ก๐—” ๐—ฃ๐—จ๐—•๐—Ÿ๐—œ๐—ž ๐— ๐—˜๐—ก๐—œ๐—Ÿ๐—”๐—œ ๐—ฃ๐—˜๐— ๐—˜๐—ฅ๐—œ๐—ก๐—ง๐—”๐—›๐—”๐—ก ๐—œ๐—ก๐—œ?

Di sinilah persoalan menjadi menarik.

Pemerintah Provinsi NTB memiliki SIMASKOT, sistem Survei Kepuasan Masyarakat Online Terintegrasi.

Dashboard SIMASKOT yang saat ini dapat diakses menampilkan IKM Provinsi 87,27, dengan 15.381 responden dan 459 standar pelayanan. 

Tetapi angka tersebut harus dibaca secara benar.

87,27 bukan berarti 87,27 persen masyarakat NTB menyatakan puas terhadap pemerintahan Iqbalโ€“Dinda.

SIMASKOT mengukur kepuasan masyarakat terhadap unit dan layanan publik, bukan approval rating politik terhadap gubernur dan wakil gubernur. 

Bahkan dalam Satu Data NTB, dataset tahunan Hasil Survei Kepuasan Masyarakat melalui SIMASKOT berdasarkan Perangkat Daerah dan Jenis Layanan Publik Tahun 2025 pada jadwal rilis masih tercatat โ€œBelum Rilisโ€. 

Karena itu, belum tepat menjadikan angka 87,27 sebagai jawaban atas pertanyaan tentang tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Iqbalโ€“Dinda.

๐——๐—”๐—ก๐—” ๐—ฃ๐—˜๐—ก๐—š๐—จ๐—ž๐—จ๐—ฅ ๐—œ๐—ก๐——๐—˜๐—ฃ๐—˜๐—ก๐——๐—˜๐—ก? ๐——๐—œ ๐—ฆ๐—œ๐—ก๐—œ ๐—๐—จ๐—ฆ๐—ง๐—ฅ๐—จ ๐—”๐——๐—” ๐—ž๐—˜๐—ž๐—ข๐—ฆ๐—ข๐—ก๐—š๐—”๐—ก ๐——๐—”๐—ง๐—”

Penelusuran terhadap survei terbuka menunjukkan bahwa terdapat beberapa survei sebelum Pilkada 2024.

Poltracking, misalnya, melakukan survei pada 31 Meiโ€“7 Juni 2024 terhadap 800 responden di seluruh kabupaten/kota NTB. Dalam survei itu, approval rating terhadap kinerja pemerintah provinsi secara bersama-sama tercatat 64,3 persen. 

Tetapi angka tersebut menggambarkan pemerintahan sebelum Iqbalโ€“Dinda, sehingga tidak dapat digunakan sebagai ukuran kinerja pemerintahan sekarang.

Nusra Institute kemudian melakukan survei pada 9โ€“13 September 2024 terhadap 1.000 responden. Survei tersebut melaporkan elektabilitas pasangan Iqbalโ€“Dinda sebesar 31 persen dan menyebut tingkat kepuasan terhadap kinerja petahana berada di bawah 50 persen. Metodenya multistage random sampling dengan margin of error 3,16 persen. 

Namun survei tersebut juga mempunyai konteks yang harus disampaikan kepada pembaca: survei dilakukan untuk memotret dinamika Pilkada 2024 dan menurut penjelasan Direktur Nusra Institute, pembiayaannya berasal dari seorang pengusaha yang tidak disebutkan namanya. 

LSI juga melakukan survei pada Oktober 2024 dengan 1.540 responden dan metodologi stratified random sampling. Hasilnya kemudian diberitakan sebagai survei yang tidak terkait dengan pasangan Iqbalโ€“Dinda. 

Tetapi sekali lagi, semuanya adalah survei pra-pemilihan.

Bukan survei evaluasi setelah pemerintahan berjalan.

Dengan demikian, sampai penelusuran ini dilakukan pada September 2026, belum ditemukan survei independen terbuka yang secara khusus dan metodologis mengukur approval rating masyarakat NTB terhadap pemerintahan Iqbalโ€“Dinda setelah mereka dilantik pada 20 Februari 2025.

Ini adalah fakta penting.

Karena publik memiliki hak untuk mengetahui bukan hanya berapa banyak program yang dilaksanakan pemerintah, tetapi juga bagaimana masyarakat menilai pemerintahan tersebut.

๐—ž๐—˜๐—ง๐—œ๐—ž๐—” ๐—ฆ๐—จ๐—ฅ๐—ฉ๐—˜๐—œ ๐— ๐—จ๐—Ÿ๐—”๐—œ ๐——๐—œ๐—ฃ๐—˜๐—ฅ๐—–๐—”๐—ฌ๐—”๐—ž๐—”๐—ก, ๐—ฉ๐—˜๐—ฅ๐—œ๐—™๐—œ๐—ž๐—”๐—ฆ๐—œ ๐— ๐—˜๐—ก๐—๐—”๐——๐—œ ๐—ฃ๐—˜๐—ก๐—ง๐—œ๐—ก๐—š

Pengalaman Pilkada NTB 2024 juga menunjukkan mengapa publik harus hati-hati membaca angka survei.

Pada November 2024, Litbang Kompas secara resmi membantah melakukan survei prapilkada di NTB. Survei yang beredar menggunakan nama Litbang Kompas dinyatakan hoaks. 

Karena itu, angka survei tidak boleh diterima hanya karena mencantumkan nama lembaga terkenal.

Metode, waktu penelitian, jumlah responden, teknik sampling, margin of error dan siapa yang membiayai survei perlu diketahui.

Dalam konteks pemerintahan, hal ini bahkan lebih penting karena angka kepuasan dapat membentuk persepsi publik terhadap kinerja pemerintah.

๐—๐—”๐——๐—œ, ๐—”๐—ฃ๐—” ๐—ฌ๐—”๐—ก๐—š ๐—ฆ๐—จ๐——๐—”๐—› ๐—ง๐—˜๐—ฅ๐—Ÿ๐—œ๐—›๐—”๐—ง?

Jika seluruh data tersebut disusun tanpa memberikan label โ€œberhasilโ€ atau โ€œgagalโ€, gambarannya menjadi lebih menarik.

Pertama, kemiskinan NTB mengalami penurunan hingga 11,17 persen pada Maret 2026. 

Kedua, IPM meningkat menjadi 73,97 pada 2025, termasuk peningkatan rata-rata lama sekolah. 

Ketiga, pemerintah mulai mendorong Desa Berdaya sebagai pendekatan pembangunan yang menghubungkan kemiskinan, ekonomi desa, pangan dan potensi lokal. 

Keempat, konektivitas transportasi menunjukkan peningkatan jumlah penumpang BIZAM pada 2025. 

Kelima, realisasi pendapatan APBD 2025 mencapai 99,79 persen dan realisasi belanja 93,14 persen. 

Namun di sisi lain:

Pertama, SPI KPK 2025 menempatkan NTB pada indeks 64,93 dengan kategori Rentan. 

Kedua, proses Perubahan APBD 2026 menghadapi persoalan waktu efektif pelaksanaan program dan proses reviu sejumlah belanja. 

Ketiga, data kepuasan pelayanan publik tersedia melalui SIMASKOT, tetapi angka tersebut bukan approval rating terhadap gubernur. 

Keempat, dataset tahunan SIMASKOT 2025 berdasarkan perangkat daerah dan jenis layanan pada Satu Data NTB masih tercatat belum rilis. 

Kelima, belum ditemukan survei independen terbuka pascapelantikan yang secara khusus menjawab pertanyaan: seberapa puas masyarakat NTB terhadap pemerintahan Iqbalโ€“Dinda?

๐—ฅ๐—˜๐—ž๐—”๐—  ๐—๐—˜๐—๐—”๐—ž ๐—ง๐—œ๐——๐—”๐—ž ๐—–๐—จ๐—ž๐—จ๐—ฃ ๐——๐—œ๐—จ๐—ž๐—จ๐—ฅ ๐——๐—”๐—ฅ๐—œ ๐—•๐—”๐—ก๐—ฌ๐—”๐—ž๐—ก๐—ฌ๐—” ๐—ฃ๐—ฅ๐—ข๐—š๐—ฅ๐—”๐— 

Pada akhirnya, pemerintahan Iqbalโ€“Dinda masih berada pada fase awal pelaksanaan mandat lima tahun.

Karena itu, rekam jejaknya lebih tepat dibaca sebagai proses yang sedang berlangsung, bukan sebagai laporan akhir.

Data menunjukkan sejumlah indikator bergerak positif. Pada saat yang sama, masih terdapat persoalan tata kelola, integritas, pelaksanaan anggaran dan kebutuhan akan pengukuran kepuasan publik yang lebih terbuka.

Justru di sinilah ukuran pemerintahan yang sehat menjadi penting.

Bukan berapa banyak program yang dapat diumumkan.

Bukan pula berapa banyak kegiatan yang dapat difoto dan diberitakan.

Tetapi apakah program tersebut menghasilkan perubahan yang dapat diukur, apakah anggaran menghasilkan manfaat, apakah pelayanan semakin mudah diakses, apakah masyarakat merasakan perubahan, dan apakah seluruh proses pemerintahan berjalan dengan integritas.

Dan untuk menjawab pertanyaan terakhir tentang โ€œbagaimana perasaan publik terhadap pemerintahan Iqbalโ€“Dinda setelah satu tahun lebih berjalan?โ€, NTB masih membutuhkan satu hal yang sangat sederhana tetapi penting:

data survei yang independen, transparan metodologinya, dan benar-benar mengukur pemerintahan yang sedang berjalan.

Sebab dalam demokrasi, pemerintah boleh menyampaikan capaian, media boleh menguji data, tetapi penilaian publik seharusnya juga memiliki ruang untuk diukur secara terbuka.

Itulah sebabnya rekam jejak sebuah pemerintahan tidak seharusnya dibangun hanya dari narasi pemerintah, dan tidak pula dari kritik semata.

Ia harus diuji oleh data.

๐—–๐—”๐—ง๐—”๐—ง๐—”๐—ก ๐—ฅ๐—˜๐——๐—”๐—ž๐—ฆ๐—œ ๐——๐—˜๐—ฆ๐—” ๐—ฆ๐— ๐—”๐—ฅ๐—ง

Artikel ini disusun sebagai bahan literasi dan edukasi publik berdasarkan sumber resmi pemerintah, BPS, DPRD NTB, KPK serta pemberitaan mengenai survei yang dapat diverifikasi. Angka survei pra-Pilkada 2024 tidak digunakan sebagai ukuran kepuasan terhadap pemerintahan Iqbalโ€“Dinda, melainkan hanya sebagai data pembanding historis.

Angka SIMASKOT juga tidak diperlakukan sebagai approval rating politik karena instrumennya mengukur kepuasan terhadap layanan publik.

Desa Smart tidak memberikan penilaian politik terhadap pemerintahan atau pejabat publik tertentu. Pembaca dipersilakan membaca data, membandingkan sumber, dan membentuk penilaiannya sendiri.

๐—ฆ๐—จ๐— ๐—•๐—˜๐—ฅ ๐—ฅ๐—จ๐—๐—จ๐—ž๐—”๐—ก ๐—จ๐—ง๐—”๐— ๐—”

โ€ข BPS Provinsi NTB โ€” Profil Kemiskinan NTB Maret 2026. 

โ€ข BPS Provinsi NTB โ€” IPM Provinsi NTB 2025. 

โ€ข Pemerintah Provinsi NTB โ€” SIMASKOT. 

โ€ข Satu Data NTB โ€” Jadwal Rilis Dataset 2025. 

โ€ข KPK โ€” Survei Penilaian Integritas 2025. 

โ€ข ANTARA โ€” KPK menilai tata kelola Pemda NTB rentan korupsi, 3 September 2026. 

โ€ข DPRD Provinsi NTB โ€” LKPJ Gubernur NTB Tahun 2025. 

โ€ข DPRD Provinsi NTB โ€” Evaluasi Perubahan APBD 2026, 23 September 2026. 

โ€ข ANTARA โ€” Survei Poltracking NTB, Juni 2024. 

โ€ข ANTARA โ€” Survei Nusra Institute NTB, September 2024. 

โ€ข ANTARA โ€” Survei LSI NTB, Oktober 2024. 

โ€ข detikBali โ€” Klarifikasi Litbang Kompas terkait survei hoaks Pilgub NTB. 

Status verifikasi: layak dipublikasikan sebagai artikel literasi/analisis publik, dengan catatan bahwa angka-angka pembangunan tidak boleh ditafsirkan sebagai hubungan sebab-akibat tunggal dengan pemerintahan Iqbalโ€“Dinda, dan angka survei pra-Pilkada tidak boleh dipresentasikan sebagai tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan saat ini.