Tanggal: 24 Sep 2026
Kategori: Editorial
Post dari: Admin
๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ด๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐๐ถ๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ ๐ฒ๐ป๐ฒ๐บ๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐น๐ถ ๐ฅ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐จ๐ป๐๐๐ธ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฝ๐ถ๐ธ๐ถ๐ฟ
Keterangan ilustrasi: Di tengah dunia yang semakin terkoneksi, kemampuan untuk berhenti sejenak justru menjadi bagian penting dari literasi digital.
Bayangkan seseorang duduk sendirian di sebuah ruangan pada malam hari. Di tangannya ada sebuah telepon pintar. Tidak ada percakapan, tidak ada televisi yang menyala, tidak ada suara pemberitahuan pesan masuk. Hanya ada seseorang yang sedang diam dan berpikir.
Pemandangan sederhana semacam itu mungkin terasa semakin asing dalam kehidupan modern.
Kita hidup dalam sebuah zaman ketika informasi datang hampir tanpa jeda. Pesan WhatsApp, surel, media sosial, berita, video pendek, notifikasi aplikasi hingga berbagai layanan digital berlomba mendapatkan perhatian manusia.
Teknologi membuat hidup lebih mudah. Namun, pada saat yang sama, teknologi juga menghadirkan persoalan baru: siapa sebenarnya yang mengendalikan perhatian kita?
๐๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐ก๐ผ๐๐ถ๐ณ๐ถ๐ธ๐ฎ๐๐ถ ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐๐๐ฟ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฎ๐๐ถ๐ฎ๐ป
Salah satu perubahan paling nyata pada era digital adalah munculnya pola komunikasi yang bersifat terus-menerus.
Dahulu, seseorang harus membuka surat, menyalakan televisi, membeli koran atau menunggu telepon untuk memperoleh informasi. Kini, informasi dapat muncul langsung di layar dalam hitungan detik.
Kemudahan tersebut memiliki konsekuensi terhadap perhatian.
American Psychological Association merangkum sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa notifikasi telepon pintar dapat berkaitan dengan meningkatnya gangguan perhatian. Dalam salah satu penelitian yang dibahas APA, peserta yang menerima notifikasi lebih banyak melaporkan tingkat ketidakfokusan yang lebih tinggi dibandingkan ketika notifikasi dimatikan.
Artinya bukan berarti telepon pintar selalu buruk.
Masalahnya lebih sederhana: perhatian manusia memiliki kapasitas terbatas.
Ketika perhatian terus berpindah dari satu informasi ke informasi lain, seseorang mungkin tetap merasa sibuk, tetapi belum tentu sedang melakukan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi mendalam.
๐ ๐๐น๐๐ถ๐๐ฎ๐๐ธ๐ถ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐น๐๐บ ๐ง๐ฒ๐ป๐๐ ๐๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐ฃ๐ฟ๐ผ๐ฑ๐๐ธ๐๐ถ๐ณ
Dalam budaya digital, kemampuan melakukan banyak hal sekaligus sering dianggap sebagai kelebihan.
Membaca pesan sambil bekerja.
Menonton video sambil makan.
Mengikuti rapat sambil membuka media sosial.
Membalas pesan sambil membaca berita.
Namun, penelitian mengenai media multitasking menunjukkan bahwa perilaku berpindah-pindah perhatian cukup sering terjadi dalam aktivitas digital. Sebuah studi yang diterbitkan Scientific Reports pada 2023, misalnya, menganalisis hampir 3.000 peserta dalam berbagai penelitian daring dan menemukan bahwa perilaku media multitasking muncul dengan rata-rata sekitar 38 persen, meskipun angkanya sangat bervariasi antarpenelitian.
Temuan tersebut tidak berarti bahwa setiap bentuk multitasking pasti merugikan.
Yang perlu dipahami adalah bahwa melakukan banyak aktivitas digital secara bersamaan tidak sama dengan memberikan perhatian penuh kepada semuanya.
Ada pekerjaan yang memang dapat dilakukan secara paralel. Tetapi ada pula pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi, pemahaman, pengambilan keputusan, dan kemampuan berpikir secara mendalam.
๐๐ถ๐ด๐ถ๐๐ฎ๐น ๐๐ฒ๐๐ผ๐ ๐๐๐ธ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ฟ๐๐ถ ๐ ๐ฒ๐ป๐ผ๐น๐ฎ๐ธ ๐ง๐ฒ๐ธ๐ป๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ
Literasi digital sering dipahami sebatas kemampuan menggunakan perangkat dan aplikasi.
Padahal, literasi digital yang lebih matang juga mencakup kemampuan mengatur hubungan kita dengan teknologi.
Seseorang yang mampu menggunakan teknologi tetapi tidak mampu mengatur kapan harus berhenti menerima informasi masih menghadapi persoalan literasi digital.
Karena itu, digital wellbeing tidak harus diterjemahkan sebagai meninggalkan teknologi.
Justru sebaliknya: teknologi digunakan secara sadar sesuai kebutuhan.
Mematikan notifikasi yang tidak penting, misalnya, merupakan tindakan sederhana untuk mengurangi gangguan. APA juga menyarankan pengguna mempertimbangkan notifikasi mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang dapat ditunda.
Dengan demikian, persoalannya bukan online atau offline, melainkan sadar atau otomatis.
๐ฆ๐ฎ๐๐ ๐๐ฎ๐บ ๐๐ฒ๐ต๐ฒ๐ป๐ถ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ถ๐๐ฎ ๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐ฅ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ฒ๐ฟ๐ฝ๐ถ๐ธ๐ถ๐ฟ
Tidak semua waktu harus diisi dengan informasi.
Ada nilai penting dalam menyediakan waktu untuk membaca buku tanpa gangguan, berjalan kaki, berbicara langsung dengan keluarga, menikmati lingkungan sekitar, menulis, beribadah, atau sekadar duduk tanpa harus membuka layar.
Jeda semacam ini bukan berarti membenci teknologi. Ia merupakan cara untuk mengembalikan keputusan kepada manusia.
WHO sendiri menempatkan pengurangan perilaku sedentari sebagai bagian dari pedoman aktivitas fisik dan kesehatan. WHO menekankan bahwa semua aktivitas fisik memiliki nilai dan bahwa waktu yang dihabiskan dalam perilaku sedentari perlu dibatasi.
Karena itu, satu jam tanpa notifikasi dapat dimaknai bukan sebagai โsatu jam kehilangan informasiโ, melainkan satu jam mendapatkan kembali perhatian.
๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฝ๐ฎ ๐๐ถ๐๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐น๐ ๐๐ฒ๐ฑ๐ฎ ๐๐ถ๐ด๐ถ๐๐ฎ๐น?
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dicoba.
Pertama, buat zona tanpa notifikasi.
Tidak semua pesan harus diketahui saat itu juga. Notifikasi yang tidak penting dapat dimatikan atau dijadwalkan.
Kedua, pisahkan waktu kerja dan waktu istirahat.
Jika memungkinkan, hindari membawa seluruh pekerjaan digital ke ruang pribadi dan waktu istirahat.
Ketiga, biasakan satu pekerjaan dalam satu waktu.
Ketika membaca, membaca. Ketika menulis, menulis. Ketika berbicara dengan seseorang, berikan perhatian kepada orang tersebut.
Keempat, sisihkan waktu tanpa layar.
Tidak harus berjam-jam. Bahkan waktu singkat yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi latihan untuk membangun kembali kebiasaan memperhatikan.
Kelima, jangan mengukur kehidupan hanya dari banyaknya informasi yang diterima.
Informasi yang banyak belum tentu menghasilkan pengetahuan. Pengetahuan yang banyak belum tentu menghasilkan pemahaman. Dan pemahaman membutuhkan waktu untuk berpikir.
๐ง๐ฒ๐ธ๐ป๐ผ๐น๐ผ๐ด๐ถ ๐ฆ๐ฒ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐๐ป๐๐ฎ ๐ ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ป๐๐ ๐ ๐ฎ๐ป๐๐๐ถ๐ฎ
Era digital tidak perlu dilihat sebagai pertentangan antara manusia dan teknologi.
Teknologi adalah alat.
Ia dapat membantu petani mendapatkan informasi cuaca, pemerintah desa mengelola data, pelajar mengakses pengetahuan, pelaku usaha memasarkan produk, tenaga kesehatan berkomunikasi, dan masyarakat memperoleh layanan publik.
Namun, sebuah alat yang baik tetap membutuhkan pengguna yang mampu mengendalikannya.
Karena itu, salah satu bentuk literasi digital yang penting pada masa kini bukan hanya mengetahui cara menggunakan teknologi, tetapi juga mengetahui kapan harus menggunakannya dan kapan harus berhenti sejenak.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak membutuhkan lebih banyak waktu.
Kita hanya perlu lebih sadar terhadap bagaimana waktu dan perhatian kita digunakan.
Sebab di tengah dunia yang semakin ramai oleh suara, notifikasi, informasi, dan percakapan digital, kemampuan untuk diam sejenak bukanlah keterbelakangan. Ia bisa menjadi bentuk baru dari kecakapan manusia.
๐๐๐ง๐๐ง๐๐ก ๐ฃ๐๐ก๐จ๐๐๐ฆ
Tulisan ini merupakan artikel ilmiah populer untuk literasi dan edukasi publik. Pembahasan mengenai penggunaan teknologi, perhatian, media multitasking, aktivitas sedentari, dan kesejahteraan digital disusun berdasarkan sumber penelitian dan lembaga kesehatan yang dirujuk. Temuan ilmiah mengenai teknologi dan perilaku manusia terus berkembang sehingga hubungan sebab-akibat tidak selalu dapat disederhanakan menjadi โteknologi baikโ atau โteknologi burukโ.
๐ฆ๐จ๐ ๐๐๐ฅ ๐ฅ๐จ๐๐จ๐๐๐ก
1. American Psychological Association (APA) โ Connected and Content: Managing Healthy Technology Use. Membahas penggunaan teknologi, notifikasi, perhatian, dan kesejahteraan.
2. Drody, A. C., Pereira, E. J., & Smilek, D. (2023) โ A desire for distraction: uncovering the rates of media multitasking during online research studies, Scientific Reports, 13, 781.
3. World Health Organization (WHO) โ WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Pedoman berbasis bukti mengenai aktivitas fisik dan perilaku sedentari.
4. World Health Organization (WHO) โ Physical Activity. Informasi mengenai aktivitas fisik, perilaku sedentari, dan kaitannya dengan kesehatan.
Gagasan utama: Di era ketika teknologi semakin cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak mungkin justru menjadi salah satu bentuk literasi digital yang paling penting.