Seperti banyak pemimpin daerah pada masanya, A. Latif Majid tumbuh dari jalur birokrasi. Ia meniti karier melalui struktur pemerintahan yang menuntut loyalitas, disiplin, dan pemahaman terhadap sistem administrasi negara.
Pengalaman panjang dalam birokrasi membentuknya menjadi sosok yang memahami ritme pemerintahan: bagaimana kebijakan dirancang, bagaimana program dijalankan, dan bagaimana stabilitas dijaga. Ia bukan produk instan dari panggung politik, melainkan hasil dari proses panjang dalam sistem pemerintahan itu sendiri.
Momentum Penting
Kepemimpinan A. Latif Majid berada pada fase yang unik: ia menjadi bagian dari generasi terakhir kepala daerah yang dipilih melalui DPRD, sebelum sistem itu berubah menjadi pemilihan langsung oleh rakyat. Di tingkat nasional, wacana reformasi dan demokratisasi mulai menguat. Namun di daerah, roda pemerintahan tetap harus berjalan. Di sinilah perannya menjadi penting: menjaga kesinambungan pemerintahan di tengah bayang-bayang perubahan sistem.
Gaya Kepemimpinan
A. Latif Majid dikenal dengan pendekatan yang cenderung administratif dan terstruktur—ciri khas pemimpin dari latar belakang birokrasi era tersebut. Fokus utamanya adalah: menjaga stabilitas pemerintahan, memastikan program berjalan sesuai rencana, serta mempertahankan ketertiban dalam sistem yang sudah ada. Gaya ini mungkin tidak menonjol secara publik, tetapi memiliki peran penting dalam menjaga agar roda pemerintahan tetap bergerak.
Capaian dan Kontribusi
Dalam masa kepemimpinannya: fondasi administrasi pemerintahan daerah tetap terjaga, berbagai program pembangunan berjalan dalam kerangka sistem yang ada, dan kesinambungan pemerintahan dapat dipertahankan menjelang perubahan besar. Kontribusinya mungkin tidak selalu terlihat sebagai lompatan besar, tetapi lebih pada menjaga agar tidak terjadi disrupsi di akhir sebuah era.
Dinamika dan Tantangan
Memimpin di akhir sistem lama bukan tanpa tekanan. Di satu sisi, pemerintah daerah harus tetap berjalan seperti biasa. Di sisi lain, perubahan di tingkat nasional mulai memberi sinyal bahwa sistem yang ada tidak akan bertahan lama. Situasi ini menuntut keseimbangan: antara mempertahankan stabilitas, dan bersiap menghadapi perubahan yang tak terhindarkan.
Jejak Setelah Jabatan
Seperti banyak tokoh birokrat pada masanya, setelah masa jabatan berakhir, peran A. Latif Majid lebih banyak berada di luar struktur formal pemerintahan. Namun jejaknya tetap menjadi bagian dari sejarah administratif dan politik Sumbawa—sebagai pemimpin yang menutup satu fase penting.
Refleksi
Jika Jamaluddin Malik dikenal sebagai pemimpin di awal era baru, maka A. Latif Majid adalah figur yang berdiri di penghujung sistem lama. Keduanya berada di titik sejarah yang berbeda, tetapi saling terhubung. Tanpa stabilitas di akhir sebuah era, perubahan di awal era berikutnya tidak akan berjalan dengan baik.
Penutup
Sejarah tidak hanya mencatat mereka yang memulai perubahan, tetapi juga mereka yang menjaga agar sebuah masa berakhir dengan tertib. Dalam perjalanan Sumbawa, peran itu dipegang oleh A. Latif Majid— seorang pemimpin yang memastikan bahwa sebelum lembaran baru dibuka, lembaran lama ditutup dengan rapi.